Jan 27, 2012

Another Love Story

Kali ini mau cerita tentang seorang sahabat, sebut aja namanya Cita. Kita kenalan waktu kelas 2 SMA karena ada pengelompokan kelas ipa-ips-bahasa. Orangnya cantik, tapi cuek, jago karate, dan galak. Dia orangnya juga nggak sering basa-basi dan straight to the point. Suka ya ngomong suka. Nggak suka ya ngomong nggak suka.
Cus bles. Beberapa kesamaan sifat dan karakter bikin kami berdua cocok dan duduk sebangkuuu terus. Curhat sama dia asik, nggak perlu malu-malu atau sungkan kalo cerita tentang apa aja ke dia. Gitu juga sebaliknya.

Di balik sifatnya yang cuek dan galak, ada satu hal yang sangat aku kagumin dari dia. Dia dewasa dan bijaksana. Dan tulus. Tulus dalam hal apa aja.
Tulus dalam soal cinta terutama.

Cita pernah sangat jatuh cinta. (sumpah ini ceritanya kayak dongeng disney campur ftv banget)
Cita ketemu Miko dalam suatu pesta dansa (beneran). Cita acuh, karena dia cuma nemenin satu sahabatnya yang lain, sebut aja Reni. Miko naksir Cita. Besoknya nelpon Cita. Bener2 ngejar Cita.
Cita cuek. Dia nggak peduli sama Miko dan cenderung menjauhi. Tahu kenapa? Pertama, mereka baru pertama kali ketemu dan kedua (dan yg paling krusial) beda agama.
Tapi yah, namanya juga udah diskenariokan oleh Tuhan, Cita lama-lama jadi tertarik dan mulai memperhatikan Miko. Dia pernah cerita, dia bimbang. Ada satu ganjalan terbesar, yah, perbedaan agama itu tadi. Apalagi Miko termasuk Katolik yang taat.
Aku, sebagai sahabat yang bodoh dan polos, cuma bisa kasih nasihat standart aja. Nasihat macam, "Pikir2 lagi deh Cit, nanti daripada saat kamu udah terlalu dalam cinta sama dia, kamu bakal nyesel dan kecewa karena perbedaan itu" atau nasihat "Kalau kamu yakin bisa ngatasin resiko selanjutnya, ya terserah kamu Cit"

Dan akhirnya mereka jadian.
Dan saat-saat itu adalah saat-saat pertama kali dimana aku bisa melihat secara nyata bahwa cinta bisa bikin seseorang mengekspresikan perasaannya dengan sangat maksimal.
Maksudnya, saat dia lagi bahagia bawaannya seneeeeeng banget dan berikutnya waktu dia sedih bawaannya mewek dan drop all day long. Dan ini asli, terjadi di depan mataku.
Aktivitas pacaran mereka nggak melulu makan-nonton-jalan2, tapi juga diskusi tentang apa aja yang lagi happening saat itu. Sampai ke masalah isu-isu agama pun mereka diskusiin. Quality time banget lah.
Suatu saat si Miko kecelakaan dan harus opname di rumah sakit. Cita sedih dan nangis terus di sekolah. Dia cerita sambil mewek. Dia cerita tentang bagaimana menderitanya Miko, bagaimana dia kepingin rasa sakitnya Miko di-share ke dia juga. Itu pertama kali aku ngelihat suatu perasaan yang bener2 nyata dan nggak dibuat2. Adegan yang aku pikir cuma ada di film atau sinetron aja.
Aku cuma bisa ngelus2 rambut Cita waktu itu. Dan itu pertama kalinya aku nangis bersama seorang teman. Nangis karena I feel sad too. Kita nangis berdua saat itu.

Dan masa-masa itu lewat. Mereka happy lagi meskipun sering berantem karena sama2 keras kepala.
Sampai pada akhirnya aku dan Cita harus pisah karena aku ngelanjutin kuliah di Malang dan dia di Surabaya. Kami berdua jarang kontak2, karena emang pada dasarnya kami jarang sms-an sebelumnya. Aku juga akhirnya nggak ngikutin perkembangan percintaan Cita-Miko selanjutnya. (teman macam apa aku ini)

Pada suatu liburan semester, aku dan Cita ketemu. Kami berdua jalan bareng.
Dia cerita satu hal yang bikin aku terkejut. Cita dan Miko sudah putus.
Dan yang bikin aku tambah terkejut adalah reaksi Cita datar dan biasa aja. Wo wo wo...ada apa ini? Padahal kalau ngelihat reaksi Cita waktu masih pacaran sama Miko dulu kayaknya dalem dan ekspresif banget.
Dia melanjutkan ceritanya. Dan penyebabnya putusnya mereka ini tambah bikin aku terkejut.
Ingat Reni yang aku sebutin di awal cerita? Yap, Miko ada affair dengan dia. Salah satu alasan adalah karena Reni beragama Katolik, sama dengan Miko. Ini membuat Reni lebih bisa diterima di keluarga Miko, tidak seperti Cita yang harus susah payah pdkt ke keluarga Miko.
Jujur, aku nggak paham bener pokok permasalahannya apa. Yang jelas, aku pikir ini keputusan yang tepat buat Cita. Bagaimanapun dia adalah seorang wanita hebat yang tau sikap apa yang harus diambil. Mungkin dia berpikir, kalau Miko akan bisa lebih bahagia dengan Reni.
You know it's love when all you want is that person to be happy, even if you're not part of their happiness (Julia Roberts)

Dan walaupun dia masih jatuh cinta dengan Miko saat lelaki itu main belakang, dia masih pake logika. Perbedaan yang begitu mendasar juga akan mempengaruhi hubungan mereka nantinya. Jadi Cita memilih stop. Stop berhubungan cinta dengan Miko dan mengharapkan hal2 yang indah dengannya.

Aku salut sama dia. Gayanya bercerita seakan dia bukan pemeran dalam cerita yang lagi dia share ke aku. Tenang, kalem, sambil ngaduk2 minumannya...padahal aku yakin, dibalik sikap kalemnya itu, pasti dia pernah nangis atau merenung pada suatu malam. Secara ya...saya tau sendiri kalo Cita suangat mencintai (haduh bahasanya) Miko.
Tapi yah...sesuai salah satu quote yang pernah aku baca.. "Cinta yang teramat sangat bisa hilang begitu saja saat ada pengkhianatan". Mungkin quote itu berlaku juga buat Cita.
Tapi aku juga (sekali lagi) yakin, kisah Cita dan sang mantan nggak mungkin bisa dilupain begitu aja. Meskipun sampai sekarang aku nggak pernah denger dia ngungkit2 cerita tentang Miko, tapi aku yakin dia sekali-sekali pernah mikirin tentang Miko, senyum2 tentang Miko ataupun kesel2 sendiri kalau inget dia.

Sometimes we must get hurt in order to grow; we must fail in order to know. Sometimes our vision only clears after our eyes are washed away with tears. (anonim)




Dan...satu kesimpulan dari cerita ini adalah: Aduh beneran bodohnya aku nggak perhatian sama temen sendiri :(
I'm so sorry Cita...