May 11, 2013

Risiko

Awalnya memang saya yakin dan ingin berbagi dengan anda.
Tapi tahukah anda?
Saya pernah ragu dan takut.
Sedetik setelah saya mengiyakan anda, saya hanya bisa mengulum senyum tanpa mengucapkan perkataan yang menenangkan anda.
Senyum itu dibarengi dengan sejuta kekhawatiran pada diri sendiri. Sejenis kumpulan keegoisan.
Pertanyaan itu bermunculan di kepala saat saya menatap punggung anda menjauh.
"Apakah ini akan berakhir dengan kesedihan lagi? Apakah saya siap bila akhirnya saya harus kehilangan anda?"

Waktu sudah berjalan lebih dari seribu hari.
Aku, kamu, dan kenangan yang tak terhitung.
Aku masih mengingat pada satu malam itu. Malam saat kamu mengantarku pulang dari makan malam kita seperti biasa.
Kamu menoleh memandangku, berpamitan, dan menggurat segaris senyum di wajahmu.
Saat itu aku sadar, senyum itu yang menjawab.

Aku siap bila harus bersedih karenamu.
Aku siap bila suatu hari kehilanganmu, tidak bersamamu.
Aku siap untuk membiarkan segala ingatan tentang kita permanen di otakku.
Aku mungkin siap bila tiap detik aku harus terluka mengingatnya, menyadari itu tak bisa terhapus....
Menyadari aku mendambakanmu meski aku tak bisa memilikimu.

Dan mungkin aku tidak akan menyesal telah mengenalmu, bersamamu, berbagi denganmu, tersenyum denganmu, bahkan tersakiti olehmu.

No comments: