Oct 24, 2017

Cara Mengawetkanmu.

Salah satu caraku membekukan momen adalah melirik ke arah jam tanganku
dan mencatat angka yang tertera di sana.



Setelah aku selesai mendeskripsikanmu di dalam draft-draft tulisanku, tentu saja.

Oct 11, 2017

Kata Dia

"Kadar toleransimu untuk orang lain terlalu tinggi," He once told me, out of the blue.
"Kadang, terlalu sering jadi baik itu nggak baik,"

Lalu dengan santai, ia melanjutkan menghirup kopinya, meninggalkanku bertanya-tanya: apa lagi yang salah.

Jun 21, 2017

Pulang Padaku

Begitukah rasanya punya anak lelaki?
Aku jadi ingin memilikinya suatu hari nanti.

Jadi kelak aku bisa menyambutnya pulang padaku,
setidaknya sekali setahun.




Ninis dalam mood menyambutlebaranjauhdariibuuntukpertamakalinya.

May 11, 2017

Bulan dan Mama

Bulan malam ini cantik, sinarnya yang kuning membuat langit terlihat bersih.

Jadi teringat malam-malam di Sidoarjo. Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan-sepuluh malam, Mama selalu keluar rumah hanya untuk sekedar menatap langit.
Sambil melamun.
Lalu mengamati sekitar, entah itu mencermati pos satpam di ujung jalan atau gemerisik rumput yang dicurigai memiliki pertemuan curut-curut di lahan kosong depan rumah.
Lalu aku mengintip dari balik gorden- tentu saja Mama menangkap gerakan di jendela, jadi Mama akan memberi isyarat agar aku ikut keluar rumah.

Dan di sanalah aku. Membuka pagar rumah dan merasakan udara malam.
Aku dan Mama masih sama-sama diam mendengar suara angin.
Lalu Mama mendongak. Lama.
Aku melirik ke atas.
Bulan dan bintang tersemat bersisian.

"Wah, bulannya terang, Ma,"
"Iya, kemarau begini. Langit lagi jernih-jernihnya," ucap Mama sambil menatap ke atas.
"Bintangnya jelas, Ma,"
"Dulu waktu awal pindah malah lebih banyak. Ingat?"
"Iya, terus banyak kunang-kunang di situ," Aku menunjuk semak di depan.
"Banyak kodok juga," Mama terkikik kecil sebelum melanjutkan, "Banyak ular juga,"
Aku teringat aku pernah berpapasan dengan ular dua-tiga kali di lingkungan rumah. Aku tersenyum masam.
"Sekarang sudah banyak perumahan," Mama menatap lampu di jalan utama depan sana, "Gitu lah,"

Lalu kami diam sambil masih mengawasi pesawat yang beberapa kali melintas, sampai badan sudah cukup segar untuk tidur.
Kegiatan semacam itu masih berulang di malam-malam lainnya. Dialognya pun sama. Kadang tanpa dialog sama sekali.


Malam-malam di tahun-tahun setelahnya, Mama jarang melihat langit lagi. Jadwal mengajar Mama semakin banyak, bahkan baru selesai jam sebelas malam. Sepulang dari kampus, Mama akan langsung lelap. Capek, katanya.

Aku pun semakin jarang keluar ruangan. Malam-malam selanjutnya aku semakin sering menghadap layar empat belas inci untuk menyelesaikan ini itu.



Bulan di Bandung malam ini cantik, Ma.
Hari ini langit cerah, tidak mendung seperti kemarin atau kemarinnya lagi.
Cantiknya.. mengingatkanku pada rutinitas malam-malam kita.




Ma, rindu..

Apr 16, 2017

Hal-Hal yang Tidak Tersampaikan Pada Laut

...

Apa hayo? :p

...

First person pov
*kirim sinyal ke langit*
"langit, jangan bocorkan curahanku ya!"
"langit, cerita ini hanya kita yang tahu!"
"langit, meskipun kamu bersahabat dengan laut, jangan dulu kamu bagi cerita kita!"
"langit, meskipun kamu sering bertemu laut di horizon, jangan sekalipun kamu singgung aku ya!"


Langit pov
"tenang, aku bisa jaga rahasia ;)"

...

Dan begitulah langit menjaga janjinya.
Sampai nanti, sampai penuh, sampai jenuh.
Sampai saatnya perempuan itu mengijinkan, mempersilahkan.
Lalu ia akan dengan senang hati membaginya dengan laut,
sebagai hujan.


Feb 28, 2017

Sejajar Awan


Sejajar awan aku menghembus nafas
Menghitung jumlah putih yang berserak
Menghirup aroma deja vu yang menyukaiku
Menerka bagaimana kau bisa hadir kembali

Sejajar awan aku melihatmu
Mengingat garis senyum yang membekas
Menghitung ulang berapa kali kacamatamu merosot
Menghafalkan warna jaket yang sering membungkusmu

Sejajar awan aku mendengarmu
Melantunkan samar lagu yang kuingat
Memutar sepenggal obrolan manis di waktu dini
Merunut beberapa momen dalam hari yang terbatas

Sejajar awan aku mengusirmu
Mengibaskan memori yang tertumpuk
Membiaskan spektrum kenangan dalam gumpalan
Meluruhkan sisa-sisa rasa penuh harap saat dulu

Sejajar awan tadi kau mampir sebentar
Namun aku berhasil mengacuhkan permisimu